Tanda-tanda I’rab Khafadz atau Jar

Diposting pada

Tanda I’rab Khafadh (Jar)

وللخفض ثلاث علامات الكسرة والياء والفتحة

“I’rab khafadh mempunyai tiga alamat, yaitu; kasrah, ya’, dan fathah.”

Keterangan;

  1. Kasrah, yaitu yang menjadi alamat pokok i’rab khafadh. Contoh;

مَرَرْتُ بِزَيْدٍ                      = Aku telah bertemu dengan Zaid

بسمِ اللهِ الرّحمنِ الرّحيْمِ       = Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

  1. Ya’, sebagai pengganti kasrah. Contoh;

مررتُ بِزَيْدَيْنِ                   = Aku telah berjumpa dengan dua Zaid.

مررتُ يِالزَّيْدِيْنَ                 = Aku telah berjumpa dengan Zaid banyak.

مررتُ بِاَبِيْكَ                     = Aku telah berumpa dengan ayahmu.

  1. Fathah, sebagai pengganti kasrah. Contoh;

مررتُ بِاَحْمَدَ                    = Aku telah berjumpa dengan Ahmad

مررتُ في مَسَاجِدَ              = Aku telah shalat dibeberapa masjid.

Kata Nadhim;

علامة الحفض التي بها انضبط * كسر وياء ثمّ فتحة فقط

“Alamat khafadh (jer) yang telah ditentukan ialah kasrah, ya’, dan fathah.”[1]


Tanda-tanda I’rab Khafadh (jer)

  1. Harakat Kasrah

Harakat kasrah merupakan tanda pengenal yang paling pokok bagi i’rab jar. Sebuah kata dibaca jar (kasrah) karena adanya huruf jar. Sedangkan huruf jar itu ada 10 macam, yakni

Kasrah menjadi ciri dari i’rab jar bertempat pada tiga tempat, yaitu isim mufrad musharif (yang menerima tanwin), jamak taksir munsharif (yang menerima tanwin), dan jamak muannast salim. Contohnya sebagai berikut;

  1. Isim mufrad munsharif, contoh;   كَتَبْتُ بِقَلَمٍ
  2. Jamak taksir munsharif, contoh;   أَقْرَأُ بِكُتُبٍ مُتَنَوِّعَةٍ
  3. Jamak muannast salim, contoh;[2]هِيَ تَذْهَبُ اِلَى الْمَسْجِدِ بِمُسْلِمَاتٍ اُخْرَى

2. Huruf Ya’

Sebagaimana telah disinggung pada bagian-bagian terdahulu, ciri yang kedua dan seterusnya dari masing-masing i’rab adalah sebagai pengganti atau badal dari ciri utama atau pertama. Huruf ya’ sebagai badal dari tanda kasrah dalam i’raab jar berada di tiga tempat, yaitu asma’ul khamsah, isim tastniyah, dan jamak mudzakar salim. Untuk lebih jelasnya, mari kita perhatikan contoh di bawah ini;

  1. Asma’ul khamsah , contohnya;   اَذْهَبُ اِلَى السُّوْقِ بِاَخِيْكَ
  2. Isim tatsniyah, contohnya;   أَذْهَبُ اِلَى الْمَكْتَبَةِ بِصَدِيْقَيْنِيْ
  3. Jamak mudzakar salim, contohnya;[3]أَدْرُسُ فِيْ الْمَدْرَسَةِ بَالْمُجْتَهِدِيْنَ

3. Harakat Fathah

Ciri ini khusus bertempat di isim ghairu munsharif. Adapun yang disebut isim ghairu munsharif adalah kata benda yang tidak bisa menerima tanwin. Lebih jelasnya perhatikan contoh berikut;[4]

ذَهَبْتُ اِلَى مَسَاجِدَ


[1] Moch. Anwar, Ilmu Nahwu Terjemah Matan al-Jurumiyah dan ‘Imrithy, (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2014) cet. ke-33, hal. 33 – 34.
[2] Ulin Nuha, Buku Lengkap Kaidah-kaidah Nahwu, (Yogyakarata: DIVA Press, 2015) cet. ke-5, hal. 37.
[3] Ibid. Hal. 38 – 39.
[4] Ibid. Hal. 39.

Pendidikan Formal : 2003 - 2009 SD N Tugu 1 Sayung Demak, 2009 - 2012 MTs Futuhiyyah-1 Mranggen Demak, 2012 - 2015 MA Futuhiyyah-1 Mranggen Demak, 2015 - 2019 PAI S-1 Universitas Alma Ata Yogyakarta, 2020 - 2022 PAI S-2 UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Pendidikan Informal : 2009 - 2015 PonPes Futuhiyyah Mranggen Demak, 2015 - 2017 PonPes Al Munawwir Krapyak Bantul Yogyakarta, 2017 - 2019 PonPes Baitul Qur'an Daarut Tauhiid Yogyakarta.