Secara etimologi, Syi’ah berasal dari bahasa Arab, yang berarti pengikut atau pendukung. Dengan demikian, apabila ada ungkapan “Syi’ah ‘Ali” itu berarti pengikut ‘Ali. Adapun secara terminologis, arti ‘kaum Syi’ah” dalam lingkungan umat islam ialah kaum yang ber-i’tiqad atau berkeyakinan bahwa ‘Ali kw. Adalah orang yang berhak menjadi khalifah pengganti Nabi SAW karena Nabi berwasiat bahwa pengganti beliau sesudah wafat adalah ‘Ali.
Berdasarkan keyakinan ini, Khalifah pertama, kedua, dan ketiga yaitu Abu Bakar, Umar, dan Ustman adalah Khalifah-khalifah yang tidak sah. Mereka adalah para perampok yang berdosa karena mengambil pangkat kekhalifahan secara bathil dari ‘Ali k.w.[1]
Aliran-aliran dalam Syi’ah
Dalam perkembangan berikut ini, kaum syi’ah terpecah menjadi 22 aliran, di antaranya (Sirajuddin, 2001: 115-116) sebagai berikut:
Syi’ah Sabaiyah, yaitu Syi’ah pengikut Abdullah bin Saba’. Golongan Syi’ah Sabaiyah ini termasuk golongan Syi’ah “ghullat”, artinya yang berlebihan karena mempercayai bahwa Nabi Muhammad SAW akan kembali ke dunia seperti Nabi Isa. Mereka menyakini bahwa ‘Ali belum mati, tetapi bersembunyi dan akan lahir ke dunia kembali; mereka menyatakan bahwa Jibril bersalah menurunkan wahyu yang seharusnya diturunkan kepada ‘Ali, tetapi dia memberikannya kepada Muhammad. Petir dan kilat adalah suara ‘Ali yang sedang marah. Ruh Tuhan turun kepada ‘Ali serta keyakinan-keyakinan ganjil lainnya.
Syi’ah Kaisaniyah, yaitu Syi’ah pengikut Mukhtar bin Ubai As-Saqafi. Golongan tidak mempercayai keberadaan ruh Tuhan dalam tubuh ‘Ali, tetapi mereka yakin bahwa para Imam 0rang Syi’ah adalah Ma’shum (sebagaimana para Nabi) dan masih memperoleh wahyu.
Syi’ah Imamiyah, yaitu golongan Syi’ah yang percaya kepada dua belas Imam yang ditunjuk langsung oleh Nabi Muhammad SAW. yaitu mulai ‘Ali sampai imam yang ke-12, yakni Al-Mahdi, seorang imam yang lenyap dan akan keluar pada akhir zaman. Kelompok Syi’ah macam ini sekarang berkuasa di Iran. Said Jamaluddin Al-Afgani, guru Muhammad Abduh adalah seorang penganut paham Syi’ah Imamiyah dari peri ini (Ahmad Amin, t.t.:191).
Syi’ah Ismailiyah, yaitu Syi’ah yang mempercayai 7 rang Imam mulai ‘Ali hingga Ismail bin Jafar Ah-Shaddiq yang lenyap dan akan keluar pada akhir zaman. Syi’ah ini banyak tersebar di pakistan, murid Aga Khan.
Syi’ah Zaidiyah, yaitu Syi’ah pengikut Imam Zaid bin ‘Ali bin Husein bin ‘Ali bin Abi Thalib. Syi’ah Zaidiyah, yang beredar di Yaman adalah Syi’ah sederhana, bukan “ghullat”. Mereka tidak mengafirkan Abu Bakar, Umar, dan Ustman r.a., tetapi mereka berkeyakinan bahwa ‘Ali lebih mulia daripada Abu Bakar. Syi’ah Zaidiyah ber-i’tiqad bahwa orang muslim yang melakukan dosa besar, kalau mati sebelum bertaubat ia kafir, dan kekal di dalam neraka. (Ahmad Amin, t.t.: 136-137) menyatakan sebagai berikut:
“Imam kaum Zaidiyah, Zaid bin Ali adalah murid dari washil bin ‘Atha’, pemimpin kaum Mu’tazilah. Menurut Syahrastani, semua murid Zaid berpaham Mu’tazilah. Orang-orang Zaidiyah banyak mengarang kitab-kitab ushuluddin, hadits dan fiqh yang khusus bagi mereka. salah seorang di antaranya yang terkenal dalam abad mutakhir ialah Imam Syaukawi yang banyak mengarang dalam ushuluddin dan fiqh, termasuk “Nailul Authar”, yang beredar di Indonesia.”
Pengertian Syi’ah Syi’ah secara bahasa berarti”pengikut”, “pendukung”, “partai”, atau kelompok, sedangkan secara terminologis istilah ini di kaitkan dengan sebagian kaum muslim yang dalam bidang spiritual dan keagamaan merujuk pada keturunan Nabi Muhammad SAW. Atau disebut sebagai ahl al-bait. Poin penting dalam doktrin syi’ah adalah pernyataan bahwa segala petunjuk agama bersumber…
Aliran Khawarij Kata “Khawarij” secara etimologi bersal dari bahasa Arab “Kharaja” yang berarti keluar, muncul, timbul, atau memberontak. Berkenaan dengan pengertian etimologis ini, Syahrastani menyebut orang yang memberontak imam yang sah sebagai Khawarij. Berdasarkan pengertian etimologi ini pula, Khawarij berarti setiap muslim yang memiliki sikap laten ingin keluar dari kesatuan…
Aliran Mu'tazilah Pengertian Muktazilah Perkataan “Mu’tazilah” berasal dari kata “i’tizal”, yang berarti penyisihan atau mengasingkan diri. Adapun kaum Mu’tazilah berarti kaum yang menyisihkan atau mengasingkan diri.[1] Ada beberapa pendapat yang menerangkan latar belakang penamaan kelompok Mu’tazilah, yaitu sebagai berikut: Seorang guru besar di Baghdad, bernama Syaikh Hasan Bashri (meninggal tahun…
View Comments
Terimakasih pengetahuan nya.
Boleh kenalan sama antum?
Sepertinya antum belum memiliki istri.
Syukron akh
oke sama-sama terimakasih juga sudah membaca artikel saya,,:)
iya boleh,,, silahkan,,, :)
iya benar saya belum punya istri saudaraku,,
afwan,,,