Problematika Guru dalam Perencanaan Pembelajaran Tematik

Diposting pada

Problematika Guru dalam Perencanaan Pembelajaran Tematik

Pada kesempatan kali ini dosenmuslim.com akan menebar ilmu tentang Problematika Guru dalam Perencanaan Pembelajaran Tematik. Untuk lebih jelasnya mari kita pelajari ilmu tersebut di bawah ini.


Pembahasan

Mengajar adalah tugas yang begitu kompleks dan sulit, sehingga tak dapat dilakukan dengan baik oleh siapapun tanpa persiapan, sekalipun ia telah berpengalaman betahun-tahun. Oleh karena itu tugas dan pekerjaan tersebut memerlukan persiapan dan perencanaan yang baik, sehingga dapat mencapai hasil yang diharapkan.[1]

Sebagai tenaga pendidik yang profesional, guru tentunya dituntut untuk memiliki kompetensi dalam aktifitas mengajar. Adapun kompetensi yang dimaksud adalah kemampuan merencanakan program belajar, kemampuan melaksanakan interaksi atau mengelola proses belajar mengajar, dan kemampuan melaksanakan penilaian.[2]

Kemampuan membuat RPP merupakan langkah awal yang harus dimiliki oleh seorang guru, dan sebagai muara dari segala pengetahuan teori, keterampilan dasar dan pemahaman yang mendalam tentang objek belajar dan situasi pembelajaran. RPP merupakan suatu perkiraan atau proyeksi guru mengenai seluruh kegiatan yang akan dilakukan baik oleh guru maupun peserta didik terutama dalam kaitannya dengan pembentukan kompetensi dan pencapaian tujuan pembelajaran.[3]

Problematika Guru dalam Perencanaan Pembelajaran TematikRencana Pelakasanaan Pembelajaran (RPP) pada hakikatnya merupakan perencanaan jangka pendek untuk memperkirakan atau memproyeksikan apa yang akan dilakukan dalam pembelajaran. Dengan demikian, RPP perlu dikembangkan untuk mengkoordinasikan komponen pembelajaran. Rencana pelaksanaan pembelajaran berisi garis besar apa yang akan dikerjakan oleh guru dan peserta didik selama proses pembelajaran, baik untuk satu kali pertemuan maupun beberapa kali pertemuan.[4]

Secara umum, komponen-kompnen RPP tematik tersebut sama seperti RPP pada kurikulum sebelumnya. Hanya saja ada beberapa komponen yang ada perubahan, misalnya pada bagian langkah-langkah pembelajaran dan lembar penilaian peserta didik.[5]

Kesulitan dalam menyusun rencana pembelajaran atau RPP adalah masalah yang seringkali dialami oleh para guru. Banyaknya kendala dalam penyusunan RPP disebabkan karenaminimnya informasi yang didapatkan oleh guru terkait menyusunan RPP tematik sehingga menyebabkan kekurangpahaman dalam menyusun RPP yang benar sertabelum pernah diberikan atau mengikuti pelatihan khusus penyususnan RPP tematik. Terkait hal tersebut menyebabkan guru menjadi malas untuk menuyusun RPP. Padahal sebagaimana yang kita ketahui, seorang guru itu diharuskan dan diwajibkan untuk menyusun RPP terlebih dahulu sebelum melakukan proses belajar mengajar. (Baca juga: Problematikan Guru dalam KBM)

Guru dalam pembelajarannya sudah pasti memiliki tujuan-tujuan yang disebut tujuan pembelajaran. Tujuan pembelajaran bisa dicapai dengan dibuatnya RPP. Mengingat begitu pentingnya peran RPP bagi para guru, maka akan sangat fatal apabila guru tidak menyusunnya.

Perlu diketahui padahala perencanaan itu dapat bermanfaat bagi guru sebagai kontrol terhadap diri sendiri agar dapat memperbaiki cara mengajar. Hal ini sesuai dengan pendapat Hendiyat Soetopo dan Wasty Soemanto, mereka berpendapat bahwa selain berguna sebagai alat kontrol, maka persiapan mengajar juga berguna sebagai pegangan bagi guru sendiri.[6]

Secara umum problematika atau permasalahan yang dihadapi guru dalam penyusunan RPP dirincikan sebagai berikut:

  1. Guru belum memahami benar seluk-beluk penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran. Jika guru belum memahami benar seluk-beluk penyusunannya, maka secara otomatis rasa malas akan muncul ketika hendak menyusunnya.
  2. Perubahan kurikulum akan berimbas kepada perubahan susunan komponen dalam RPP. RPP disusun mengikuti kaidah-kaidah dalam kurikulum. Perubahan ini seringkali menyulitkan guru.
  3. Minimnya penguasaan teknologi komputerisasi para guru. Guru pada generasi-generasi terdahulu (atau yang disebut sebagai guru-guru yang berusia tua) rata-rata gagap akan teknologi komputerisasi. Segala pekerjaan yang menyangkut penyusunan kata-kata dalam suatu teks, termasuk dalam RPP, akan sangat mudah jika dikerjakan dengan bantuan komputer maupun laptop.[7]

Referensi Buku

[1] Syafrudin Nurdin dan Basyirudin Usman, Guru Profesional, (Jakarta: Ciputat Pers, 2002), h. 85.

[2] Nana Sudjana, Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar, (Bandung: Sinar Baru Algesindo, 2013), Cet. Ke-13, h. 19.

[3] Mulyasa, Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2009), h. 50.

[4] Trianto, Model Pembelajaran Terpadu; Konsep, Strategi, dan Implementasinya dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), (Jakarta: Bumi Aksara, 2010), h. 108.

[5] Abd. Kadir, Pembelajaran Tematik, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2014), h.158.

[6] B. Suryosubroto, Proses Belajar Mengajar di Sekolah, (Jakarta: Rineka Cipta, 2002), Cet. Ke-1, h. 28.

[7]Sumaryanto, “Kesulitan Guru dalam Menyusun RPP”, http://www.kesulitan-guru- dalam-menyusun-rpp. html/02/07/2015.

Pendidikan Formal : 2003 - 2009 SD N Tugu 1 Sayung Demak, 2009 - 2012 MTs Futuhiyyah-1 Mranggen Demak, 2012 - 2015 MA Futuhiyyah-1 Mranggen Demak, 2015 - 2019 PAI S-1 Universitas Alma Ata Yogyakarta, 2020 - 2022 PAI S-2 UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Pendidikan Informal : 2009 - 2015 PonPes Futuhiyyah Mranggen Demak, 2015 - 2017 PonPes Al Munawwir Krapyak Bantul Yogyakarta, 2017 - 2019 PonPes Baitul Qur'an Daarut Tauhiid Yogyakarta.