Adab Mengajar Al-Qur’an Menurut Imam An-Nawawi

Diposting pada

ADAB MENGAJAR AL-QUR’AN MENURUT IMAM AN-NAWAWI

Adab Bagi Orang yang Mengajar Al-Qur’an di dalam kitab At-Tibyan Fii Adabi Hifdhil Qur’an karya Imam Abu Zakaria Yahya bin Syaraf An-Nawawi itu ada 14 adab, di antaranya sebagai berikut:

  1. Berniat Mengharap Ridha kepada Allah SWT

Pertama kali yang harus dilakukan oleh qari’ (orang yang belajar Al-Qur’an) dan muqri’ (orang yang mengajarkan qira’ah) adalah berniat mengharap ridha Allah SWT.

Allah berfirman:

((وما أمروا الّا ليعبدوا الله مخلصين له الدّين حنفاء ويقيموا الصّلاة ويؤتوا الزّكاة، وذالك دين القيّمة (5) ))

“Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas, menjalankan agama untuk-Nya semata, melaksanakan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar).” (QS. Al-Baayyinah [98]: 5)

Diriwayatkan dari Rasulullah SAW dalam Shahihain:

((انّما الأعمال بالنّيات، وانّما لكلّ امرئ ما نوى ))

“Sesungguhnya amalan itu tergantung pada niat, dan sesungguhnya seseorang akan mendapatkan balasan sesuai dengan niatnya.”[1]

Hadits tersebut merupakan prinsip dari agama Islam.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra ia berkata: “Seseorang itu akan menghapal sesuai dengan kadar niatnya.”

Dalam riwayat lain: “Orang itu diberi sesuai dengan apa yang diniatkan.”

Diriwayatkan dari Syaikh Abdul Qasim Al-Qusyairi rahimahullah ia berkata: “Ikhlas ialah meniatkan ketaatannya hanya untuk Allah SWT semata; maksudnya dengan ketaatannya tersebut ia hanya bertujuan mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala, bukan malah mengharap hal lain seperti mengharap pujian manusia atau semacamnya yang bertujuan untuk selain mendekatkan diri kepada Allah SWT.”

Ia juga berkata; “Bisa dikatakan ikhlas itu memurnikan perbuatan dari segala bentuk perhatian makhluk.”[2]

  1. Niat Lillahi Ta’ala

Rasulullah SAW bersabda;

…انّما الاعمال بالنّيّات وانّما لكلّ امر ما نوى…

“Sesungguhnya setiap perbuatan itu tergantung pada niatnya. Sesungguhnya setiap orang (akan dibalas/mendapatkan) berdasarkan apa yang dia niatkan.”[3]

Para ulama’ berkata: “Jangan sampai menolak mengajari seseorang dengan alasan orang tersebut tidak memiliki niat baik.”

Adapun Sufyan dan lainnya mengatakan: “Menuntut ilmunya seseorang itu sudah merupakan niat baik.”

Ulama juga berkata: “Awalnya kami menuntut ilmu dengan niat karena selain Allah, namun ilmu enggan kecuali jika diniatkan karena-Nya.”

Akhirnya, pada akhirnya niat tersebut akan berubah karena Allah SWT.[4]

  1. Tidak Mengharap Hasil Duniawi

Hendaknya orang yang mengajar Al-Qur’an tidak berniat untuk memperoleh kenikmatan dunia yang bersifat sementara, baik berupa harta, jabatan, kedudukan yang tinggi, sanjungan manusia, atau semacamnya. Hendaknya juga seorang yang mengajar Al-Qur’an tidak menodai bacaannya dengan niat mencari kemurahan hati dari orang yang diajarnya, baik itu berupa harta, pelayanan, atau dalam bentuk hadiah sebelum muqri’ (orang yang mengajar) tersebut mengajarkan bacaan Al-Qur’an.

Allah SWT berfirman:

(( ومن كان يريد حرث الدّنيا نؤته منها وما له في الأخرة من نّصيب (20) ))

“Barang siapa menghendaki keuntungan di dunia, maka Kami berikan kepadanya sebagian darinya (keuntungan dunia), namun dia tidak akan mendapat bagian di akhirat.” (QS. Asy-Syu’ara [42]: 20)

Allah SWT juga berfirman:

(( من كان يريد العاجلة عجّلنا له فيها ما نشاء لمن نّريد ))

“Barang siapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia ini apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki.” (QS. Al-Isra’ [17]: 18)

Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda:

(( من تعلّم علما ممّا يبتغى به وجه الله تعالى، لا يتعلّمه الّا ليصيب به عرضا من أعراض الدّنيا، لم يجد عرف الجنّة يوم القيامة ))

“Barang siapa yang mempelajari ilmu yang seharusnya diniatkan mengharap dapat melihat wajah Allah Ta’ala akan tetapi ia tidak mempelajarinya kecuali untuk mendapatkan salah satu kenikmatan dunia, maka ia tidak akan mencium semerbak wangi surga pada hari kiamat.” (HR. Abu Daud dengan sanad shahih)[5]

Diriwayatkan dari Anas dari Hudzaifah dan Ka’ab bin Malik ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda:

(( من طلب العلم ليماري به السّفهاء، أو يكاثر به العلماء، أو يصرّف به وجوه النّاس اليه فليتبوّأ مقعده من النّار))

“Barang siapa yang menuntut ilmu dengan maksud mendebat orang-orang bodoh, berbangga terhadap ulama’, atau mencari perhatian manusia, maka hendaklah ia mempersiapkan tempatnya di neraka.” (HR. Tirmidzi dari Ka’ab bin Malik, ia berkata: “(maksudnya) niscaya Allah akan memasukkannya ke neraka.”

  1. Waspadai Sifat Sombong

Hendaklah seorang guru yang dihatinya ada sifat sombong agar berhati-hati mengajar, karena ada banyak orang yang belajar padanya dan silih berganti datang menemuinya. Waspadai juga timbulnya rasa tidak senang jika orang yang biasa belajar padanya tetapi juga belajar pada orang lain. Ini adalah ujian yang biasa menimpa para guru yang masih bodoh, yang mana hal ini menunjukkan bukti jelas keadaan niat dan batinya yang buruk. Bahkan hal ini merupakan bukti  pasti tidak adanya niat untuk malihat wajah  Allah ketika mengajarkannya. Jika ia memang berniat karena Allah SWT, maka tidak akan muncul rasa tidak suka itu, sebaliknya ia katakan pada dirinya: “yang aku inginkan adalah  nilai ketaatan dengan mengajarkannya, dan aku telah melaksanakannya. Saat in ia belajar pada orang lain untuk menambah ilmunya, dan itu tidak salah.”[6]

Diriwayatkan dari Musnad Imam yang telah disepakati hafalan dan imamahnya, Abu Muhammad Ad-Darimi rahimahullah, dari Ali Bin Abi Thalib ra, bahwa ia berkata: “Wahai para ulama amalkan ilmu kalian karena seorang ulama adalah orangyang mengamalkan ilmunya dan amalannya sesuai dengan ilmunya. Kelak akan ada orng memiliki ilmu, namun ilmunya tidak melampaui tenggorokannya. Amalan mereka mulai menyelisihi ilmu yang didapat, perilaku yang sebenarnya tidak lagi sama dengan keadaan batin mereka. Mereka berkumpul dalam halaqah hanya untuk saling berbangga dengan lainnya, sampai seseorang memarahi temannya karena belajar kepada orang lain dan meninggalkannya. Amalan orang seperti itu hanya ada di majelis mereka dan tidak akan sampai kepada Allah SWT.”[7]

Diriwayatkan secara shahih dari Imam Syafi’i rahimahullah, bahwa ia berkata: “Saya senang orang-orang mempelajari ilmu ini, yakni ilmu dan buku-buku beliau, jika saja mereka tidak menghubungkam satu huruf pun kepada saya.”[8]

  1. Menghiasi Diri dengan Akhlak Terpuji

Seorang guru seyogyanya menghiasi diri dengan kebaikan-kebaikan yang dituntunkan oleh syari’at. Sikap dan sifat yang terpuji dan diridhai contohnya seperti; zuhud terhadap dunia dan hanya mengambil sedikit saja darinya (dunia), tidak ambil pusing terhadap dunia dan para penghulunya, dermawan lagi berakhlak mulia, menampakkan kegembiraan tanpa melampaui batas kesopanan, bijaksana, sabar, besar hati terhadap rendahnya pendapatan dengan membiasakan sikap wara’, khusuk, tenang, rendah hati, serta tawanduk, tidak banyak tertawa dan bercanda, membiasakan pengamalan syari’at, seperti  kebersihan dengan mengilangkan kotoran dan rambut-rambut yang diperintahkan untuk menghilangkannya, mencukur kumis, memotong kuku, memanjangkan jenggot, menghilangkan bau tidak sedap, ataupun dengan tidak memakai pakaian yang dibenci syari’at.[9]

Hendaknya menggunakan hadits-hadits yang ada sebagai pedoman dalam bertasbih, bertahlil, ataupun dalam mengamalkan doa dan dzikir lainnya. Hendaknya ia mempertahankan perasaan selalu diawasi oleh Allah baik dalam melakukan hal-hal yang tampak maupun tidak tampak, dan juga mempercayakan segala urusan kepada Allah Ta’ala.[10]

  1. Memperlakukan Murid dengan Baik

Seorang guru seyogianya bersikap baik kepada maridnya, menyambut ketika datang, dan bersikap baik kepadanya sesuai kondisi keduanya.

Abu Harun Al-Abdi berkata: “Kami pernah mendatangi Abu Sa’id Al-Khudri ra dan saat itu ia mengatakan: ‘Selamat datang wasiat Rasulullah SAW.’”

Sesungguhnya Nabi Muhammad SAW pernah bersabda:

انّ النّاس لكم تبع، وانّ رجالا يأتونكم من اقطار الارض يتفقّهون في الدّين، فاذا أتوكم فاستوصوا بهم خيرا

“Sungguh orang-orang akan mengikuti kalian. Sungguh akan datang kepada kalian orang-orang dari berbagai penjuru bumi untuk mendalami pemahaman tentang agama ini, jika mendatangi kalian, maka perlakukanlah mereka dengan baik.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah, serta yang lainnya)[11]

Kami juga mendapati hadits yang sama dalam Musnad Darimi  dari Abu Darda’ ra.

  1. Menasehati Murid

Hendaknya seorang guru menasehati Muridnya, karena Rasulullah SAW bersabda:

الدّين النّصيحة  قلنا: لمن؟ قال: لله ولكتابه ولرسوله ولأئمّة المسلمين وعامّتهم

“Agama itu nasihat. Para sahabat bertanya: untuk siapa? Rasulullah SAW menjawab: “Untuk Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, untuk para pemimpin kaum muslimin, dan untuk kamum muslimin pada umumnya.” (HR. Muslim)[12]

Salah satu wujud karena Allah adalah menghormati penghapal Al-Qur’an dan orang yang mempelajarinya, membimbingnya menuju maslahat, membantunya belajar dengan sarana yang memungkinkan, menyenangkan hati orang yang sedang menuntut ilmu, lembut, dan hendaknya guru memiliki sikap toleran dalam mengajar dan memotivasi murid untuk belajar.[13]

Hendaknya guru mengingatkan keutamaan mempelajari Al-Qur’an agar ia bersemangat, tambah mencintai Al-Qur’an, zuhud terhadap dunia, tidak tergantung dan tertipu dengannya, mengingtakannya untuk menyibukkan diri dengan Al-Qur’an dan ilmu-ilmu sya’ir yang merupakan jalan yang ditempuh oleh orang-orang yang teguh dan hamba-hamba Allah yang arif bijaksana, yang merupakan golongan para Nabi – Shalawatullah wa salaamuhu ‘alaihim.[14]

  1. Memperlakukan Murid dengan Rendah Hati

Hendaknya guru tidak mengagungkan murid, akan tetapi bersikap lembut dan rendah hati kepada mereka. Nabi Muhammad SAW bersabda:

ليّنوا لمن تعلّمون ولمن تتعلّمون منه

“Bersikap lembutlah kepada muridmu dan kepada gurumu”[15]

Ayub As-Sakhtiyani rahimahullah berkata: “Hendaknya seorang yang berilmu menaburkan tanah di atas kepalanya sebagai bentuk tawadhuk kepada Allah SWT.”

  1. Mendidik Murid Memiliki Adab Mulia

Hendaknya guru mendidik murid dengan adab-adab mulia secara bertahap. Mengajarinya untuk berperilaku yang diridhai, melatih dirinya melakukan amalan-amalan secara sembunyi-sembunyi, membiasakannya mempertahankan amalan-amalannya yang tampak maupun tidak, memotivasinya agar ucapan dan perbuatan sehari-hari agar selalu disertai keikhlasan dan kejujuran, niat yang lurus, serta merasa selalu diawasi oleh Allah di setiap waktu. Hendaknya guru memberitahu murid bahwa dengan demikian akan terbuka baginya gerbang-gerbang pengetahuan, lapang dadanya, memancar dari hatinya  mata air hikmah dan kelembutan, diberkahi ilmu dan keadaannya serta dituntun perkataan dan perbuatannya oleh Allah SWT.[16]

  1. Hukum Mengajar Fardlu Kifayah

Mengajar hukumnya fardlu kifayah dan berubah menjadi fardlu ‘ain jika yang bisa melakukannya hanya satu orang. Jika disitu terdapat sekelompok orang yang mampu mengajar dan semua tidak mau melakukannya maka semua berdosa. Akan tetapi jika sebagian dari mereka telah melakukannya maka gugurlah kewajiban bagi yang lain. Jika saat itu salah satu dari mereka diminta mengajar dan ia menolak maka pendapat yang paling kuat adalah ia tidak berdosa, tetapi makruh hukumnya jika menolaknya tanpa alasan.[17]

  1. Bersemangat dalam Mengajar

Seorang guru diharapkan bersemangat dalam mengajar. mengutamakan pekerjaan mengajar daripada kepentingan duniawi yang tidak begitu mendesak. Hendaknya ia tidak menyibukkan hatinya dengan hal lain ketika sedang mengajar. tidak mengenal lelah dalam memahamkan murid dan menjelaskan apa yang ingin mereka ketahui. Menyuruh meridd mengulang halafan. Memuji murid yang unggul jika tidak dikhawatirkan terjadinya fitnah seperti ujub, dan menegur yang asih kurang (unggul) jika tidak dikhawatirkan timbulnya patah semangat,…[18]

  1. Mendahulukan Giliran yang Lebih Dahulu Datang

Jika muridnya banyak, hendaknya guru mendahulukan giliran murid yang pertama kali datang dan seterusnya. Jika yang pertama telah rela didahului maka tidak mengapa guru mendahulukan yang lain.

Hendaknya guru menunjukkan wajah yang ceria dan berseri-seri di hadapan mereka, memeriksa keadaan mereka, dan menanyakan perihal ketidakhadiran teman-teman mereka.[19]

  1. Tidak Merendahkan Ilmu

Termasuk adab yang ditekankan dan harus diperhatikan  adalah jangan sampai seorang guru menghinakan ilmu dengan pergi ke tempat sang murid. Misalnya, pelajar tersebut merupakan khalifah atau orang yang statusnya di bawah khalifah maka seorang guru tidak boleh mendatanginya untuk mengajarinya. Seorang guru harus menjaga ilmu tersebut dari hal semacam ini sebagaimana yang dilakukan para salaf ra dalam banyak kisah-kisah populer.[20]

  1. Memiliki Majlis yang Luas

Hendaknya seorang guru membuat majlis yang luas agar memungkinkan bagi pelajar untuk duduk dan bergabung, sebaaimana tercantum dalam sebuah hadits dari Nabi SAW:

خير المجالس أوسعها

“Sebaik-baik majelis adalah yang paling luas” (HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya pada awal-awal bab adab dengan sanad shahih dari riwayat Abu Sa’id Al-Khudri ra)[21]


REFRENSI BUKU

[1] HR. Bukhari di awal dan dibeberapa tempat dalam Shahihnya; Muslim (III/1515-1516) no. 1907; Abu Daud (II/651-652) no. 2201; Nasa’i (I/58-59); Tirmidzi (IV/154) no. 1647; Ibnu Majah no. 4227; Ahmad (I/25, 43).

[2] Imam Abu Zakaria Yahya bin Syaraf An-Nawawi, At-Tibyan Adab Penghapal Al-Qur’an, (Sukoharjo: Al-Qowam, 2016), cet. ke-5, hal. 25.

[3] Ibnu Aththar, Syarah Hadits Arba’in Nawawi, (Solo: Tinta Medina, 2013) cet. ke-1, hal. 1.

[4] Imam Abu Zakaria Yahya bin Syaraf An-Nawawi, At-Tibyan Adab Penghapal Al-Qur’an, (Sukoharjo: Al-Qowam, 2016), cet. ke-5, hal. 37.

[5] HR. Abu Daud dalam Al-Ilm (IV/71) no. 3664; Ibnu Majah no. 252; Ahmad (II/338); Abu Ya’la (6373); Ibnu Abi Syaibah (IV/188); Hakim (I/85); Ibnu Hiban dalam Al-Ihsan (78); dan masih banyak ulama’ hadits yang meriwayatkannya.

[6] Imam Abu Zakaria Yahya bin Syaraf An-Nawawi, At-Tibyan Adab Penghapal Al-Qur’an, (Sukoharjo: Al-Qowam, 2016), cet. ke-5, hal. 29-30.

[7] HR. Darimi dalam Sunan-nya (382).

[8] Imam Abu Zakaria Yahya bin Syaraf An-Nawawi, At-Tibyan Adab Penghapal Al-Qur’an, (Sukoharjo: Al-Qowam, 2016), cet. ke-5, hal. 30

[9] Imam Abu Zakaria Yahya bin Syaraf An-Nawawi, At-Tibyan Adab Penghapal Al-Qur’an, (Sukoharjo: Al-Qowam, 2016), cet. ke-5, hal. 31

[10] Ibid, hal. 31

[11] Hadits Dha’if. HR. Tirmidzi dalam AlIlm (V/30) no. 2650 dan 2651; Ibnu Majah dalam AlMuqaddimah no. 249; Baihaqi dalam AlMadkhal hlm. 621-624.

[12] HR. Muslim (I/74-75) no. 55; Bukhari meriwayatkannya secara mu’alaq dalam Al-Iman (I/137); Abu Daud dalam Al-Adab (V/233-234) no. 4944; Nasa’i bab An-Nashihah lil Imam (VII/156/157); dan masih banyak ulama hadits yang meriwayatkannya.

[13] Imam Abu Zakaria Yahya bin Syaraf An-Nawawi, At-Tibyan Adab Penghapal Al-Qur’an, (Sukoharjo: Al-Qowam, 2016), cet. ke-5, hal. 33.

[14] Ibid, hal. 33

[15] Hadits dha’if. HR. Al-Khatib dalam Al-Faqih wal Mutafaqqih (II/113)dari jalur Abad bin Katsir dari Ala’ bin Abdurrahman dari ayahnya dari Abu Hurairah dari Nabi SAW.

Bukhari mengatakan: tinggalkanlah hadistnya karena hadits yang sebenarnya bukan demikian lafalnya, walaupun secara umum maknanya benar seperti yang dikehendaki penulis.

[16] Imam Abu Zakaria Yahya bin Syaraf An-Nawawi, At-Tibyan Adab Penghapal Al-Qur’an, (Sukoharjo: Al-Qowam, 2016), cet. ke-5, hal. 35-36.

[17] Imam Abu Zakaria Yahya bin Syaraf An-Nawawi, At-Tibyan Adab Penghapal Al-Qur’an, (Sukoharjo: Al-Qowam, 2016), cet. ke-5, hal. 36.

[18] Imam Abu Zakaria Yahya bin Syaraf An-Nawawi, At-Tibyan Adab Penghapal Al-Qur’an, (Sukoharjo: Al-Qowam, 2016), cet. ke-5, hal. 36.

[19] Imam Abu Zakaria Yahya bin Syaraf An-Nawawi, terjemah At-Tibyan Adan Pengahapal Al-Qur’an, (Solo: Al-Qowam, 2014), hal. 37.

[20] Imam Abu Zakaria Yahya bin Syaraf An-Nawawi, At-Tibyan Adab Penghapal Al-Qur’an, (Sukoharjo: Al-Qowam, 2016), cet. ke-5, hal. 38.

[21] HR. Abu Dawud (V/162) no. 4820; Ahmad (III/18, 69); Baihaqi dalam Al-Adabul Mufrad (1136); Abd bin Humaid dalam Muntakhab (981); Hakim (IV/269); Baihaqi (307) dan dalam Asy-Syu’ab (8241); dan masih banyak ulama lain meriwayatkannya.