Pengertian Pendidikan dan Keluarga

Diposting pada

Pengertian Pendidikan dan Pengertian Keluarga

Pendidikan didalamnya adalah mencakup segala usaha dan perbuatan dari generasi tua kegenerasi muda dalam usaha mengalihkan pengalaman, pengetahuan, kecakapan dan keterampilan.[1] Pendidikan merupakan suatu kegiatan universal dalam kehidupan masyarakat dan ia selalu dipengaruhi oleh pandangan hidup yang dianut oleh bangsa dan masyarakat.[2]

Setiap masyarakat memiliki pandangan sendiri-sendiri, namun masyarakat Islam dalam setiap komponen (individu dan keluarga) memandang pendidikan selalu berorientsi kepada Islam, yakni berusaha menjadikan Islam sebagai sumber dalam proses penyelenggaraan pendidikan, baik pendidikan formal (persekolahan), nonformal (di lingkungan masyarakat) maupun informal (di lingkungan keluarga).


Keluarga adalah umat kecil yang memiliki pimpinan dan anggota, mempunyai pembagian tugas dan kerja, serta hak dan kewajiban bagi masing-masing anggotanya. Keluarga adalah sekolah tempat putra-putri bangsa belajar. Dari sana mereka mempelajari sifat-sifat mulia, seperti kesetiaan, rahmat dan kasih sayang, ghirah dan sebagainya.

Dari kehidupan keluarga, seorang ayah memperoleh dan memupuk sifat keberanian dan keuletan sikap dan upaya dalam rangka membela sanak keluarganya dan membahagiakan mereka pada saat hidupnya dan setelah kematiaannya. Allah SWT menganjurkan agar kehidupan dalam keluarga menjadi bahan pemikiran setiap insan dan hendaknya dari itu dapat ditarik pelajaran berharga.

Menurut pandangan Al-Qur’an, kehidupan kekeluargaan, disamping menjadi salah satu tanda dari sekian banyak kebesaran ilahi, juga merupakan nikmat yang harus dapat dimanfaatkan sekaligus disyukuri. Kehidupan keluarga apabila diibaratkan sebagai satu bangunan, demi terpeliharanya bangunan itu dari hantaman badai dan guncangan gempa, maka ia harus didirikan di atas satu pondasi yang kuat dengan bahan bangunan yang kokoh serta jalinan perekat yang lengket.

Pondasi kehidupan kekeluargaan adalah ajaran agama disertai dengan kesiapan fisik dan mental-mental calon-calon ayah dan ibu.[3]


Keluarga merupakan lingkungan pertama bagi anak, di lingkungan keluarga pertama-tama anak mendapatkan pengaruh. Karena itu, keluarga merupakan pendidik yang tertua bersifat informal dan kodrati. Lahirnya keluarga sebagai lembaga pendidikan semenjak manusia itu ada, dan tugas itu adalah mletakkan dasar-dasar bagi perkembangan anak, agar anak dapat berkembang secara baik. Tugas mendidik anak pada hakikatnya tidak bisa dilimpahkan kepada orang lain, kecuali itu kalaupun anaknya dimasukkan ke lembaga sekolah misalnya, tugas dan tanggung jawab mendidik yang berada ditangan orang tuanya tetap melekat padanya. Pendidikan di luar keluarga adalah sebagai bantuan dan meringankan beban saja.[4]

Keluarga bukan saja bertugas mendidik anak-anak sekaligus memerankan anak, dimana anak diharapkan mampu memerankan dirinya, menyesuaikan diri, mencontoh pola dan tingkah laku dari orang tua serta dari orang-orang yang berbeda dekat dengan lingkungan keluarga. Jadi peran ayah, ibu dan seluruh anggota keluarga adalah hal yang penting bagi proses pembentukan dan pengembangan proses pribadi.[5]


Anak petama sekali berkenalan dengan ibu dan ayah serta saudara-saudaranya. Melalui perkenalan itulah terjadi melalui proses penerimaan pengetahuan dan nilai-nilai yang hidup dan berkembang di lingkungan keluarga. Segala apa saja yang diterima pada proses awal itu akan menjadi referensi kepribadian anak. Di sinilah keluarga dituntut agar merealisasikan nilai-nilai yang positif sehingga terbina anak yang baik. Mengingat keluarga sebagai fase awal pendidikan maka Islam memandang keluarga bukan hanya sebagai lembaga hidup manusia yang memberi peluang kepada para anggotanya untuk hidup celaka atau bahagia dunia dan akhirat. Allah memerintahkan kepada nabi Muhammad dalam mengembangkan agama Islam adalah untuk mengajarkan agama itu kepada keluarganya, baru kepada masyarakat luas. Sebagai Firman Allah:

                                                                                                            وَأَنْذِرْ عَشِيْرَتَكَ الْأَقْرَبِيْنَ

“Dan berilah kerabat-kerabatmu yang terdekat.”

Dan demikian pula Islam memerintahkan agar para orang tua berlaku sebagai kepala dan pimpinan dalam keluarganya serta kewajiban untuk memelihara keluarganya dari api neraka. Dalam hal ini Allah menegaskan:

يَأَيُّهَاالَّذِيْنَءَامَنُواقُواأَنْفُسَكُمْ وأَهْلِيْكُمْ نَارًا

 “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”

Dilihat dari hubungan dan tanggung jawab orang tua terhadap anak, maka tanggung jawab pendidik itu pada dasarnya tidak bisa dipikulkan kepada orang lain. Latihan-latihan keagamaan hendaklah dilakukan sedemikian rupa sehingga menumbuhkan nilai-nilai yang sangat diperlukan dalam pertumbuhan anak.[6]


Prinsip-prinsip Keluarga

  1. Kesepahaman akan konstitusi keluarga

Sebuah keluarga akan menjadi harmonis apabila konstitusi (aturan) dalam keluarga itu tidak terjadi kesalah pahaman. Untuk itu, setidaknya keluarga harus memiliki aturan yang tertulis atau tidak tertulis, karena prinsip itu dapat dijadikan rujukan bila terjadi perselisihan.


  1. Pembagian tugas anggota keluarga

Di dalam keluarga pasti terdapat fungsi-fungsi yang harus dijalankan, seperti fungsi biologis, ekonomi, sosial. Agar fungsi-fungsi tersebut dapat tercapai secara maksimal, maka perlu adanya pembagian tugas yang sesuai dan seimbang. Selain itu, prinsip ini juga dapat meringankan beban pekerjaan bagi tiap-tiap anggota keluarganya.


  1. Menghargai keunikan dan potensi keluarga

Tidak ada manusia yang sempurna, setiap kelemahan adalah kekuatannya dan setiap kekuatannya adalah kelemahannya. Jangan pernah membanding-bandingkan sesama anggota keluarga, karena hal itu dapat menimbulkan kecemburuan. Berikanlah anak itu semangat dan motivasi supaya potensi anak dapat terus berkembang.


  1. Sabar dalam berinteraksi

Dalam berinteraksi kita harus bisa berlaku sabar, jangan terlalu tergesa-gesa. Karena tergesa-gesa itu datangnya dari syaiton. Apalagi saat memberikan reaksi stimulus-stumulus pada anak, kita harus berpikir ulang apakah reaksi yang akan kita berikan itu sudah benar atau belum, karena anak akan belajar dari pengalaman-pengalaman hidupnya, termasuk hal yang seperti ini.


Baca Juga peran dan fungsi keluarga dalam mendidik anak


Referensi

[1] HB. Hamdani Ali, Filsafat Pendidikan, (Yogyakarta: Kota Kembang, 1987), hlm 8.
[2] Imam Barnadib, Pemikiran Tentang Pendidikan, (Yogyakarta: Andi Offset, 1983), hlm 123.
[3] Nur Ahid. Pendidikan Keluaga dalam Perspektif Islam, (Yogyakarta: Pustaka Belajar, 2010), cet.I., hlm 75-78.
[4] Hadawi Nawawi, Organisasi dan Pengelolaan Kelas, (Jakarta: Gunung Agung, 1985), hlm 11.
[5] Zakiah Daradjat dkk., Ilmu Pendidikan Islam, hlm. 35.
[6] Nur Ahid. PendidikanKeluaga dalam Perspektif Islam, (Yogyakarta: Pustaka Belajar, 2010), cet.I., hlm 4-5.

iklan
Gambar Gravatar
Selamat datang di www.dosenmuslim.com Website ini merupakan referensi terperacaya para mahasiswa, karena wabsite ini di dalamnya memuat penemuan atau penilitian dari para pakar yang sudah dikumpulkan di dalam buku. Salam Muda Berkarya Editor M. Nasikhul Abid, S.Pd.I