Mengenal Sifat Sabar dalam Akhlak Terpuji

Diposting pada

Pengertian Sabar

Sabar adalah menahan diri untuk tidak teragitasi ketika menghadapi hal-hal yang tidak di inginkan. Al-Sayyid Ali al-Jurjani, dalam kitab al-Ta’rifat menyatakan bahwa sabar bisa berarti menahan diri untuk tidak mengeluh karna musibah atau derita yang menimpanya, kecuali kepada Allah SWT. Sementara itu, sebagaimana di kutip Abdul Qadir Isa dalam kitab Haqa’iq ‘an al-Tasawuf (hlm. 264), Dzunnun al-Mishri brpendapat bahwa sabar artinya menjauhi perbuatan-perbuatan yang menyalahi perintah Allah, tenang ketika tertimpa musibah atau bencana dan menampakkan rasa kaya diri ketika dalam keadaan fakir. Allah berfirman yang di sebutkan:

“Jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang khusyu”. (QS. Al-Baqarah: 45)

Ayat tersebut merupakan petunjuk mengenai etika ketika kita mohon pertolongan kepada Allah. Diantaranya adalah harus bersabar. Artinya kita diperintahkan oleh Allah untuk tabah dan ulet dalam menghadapi cobaan, rintangan, dan tantangan. Kita tidak boleh beputus asa, meski cita-cita yang kita idam-idankan pupus ditengah jalan.[1]

Sabar secara harfiah, sabar itu tabah hati.[2] Menurut Zun al-Nun al-Mishry, sabar artinya menjauhkan diri dari hal-hal yang bertentangan dengan kehendak Allah, tetapi tenang ketika mendapatkan cobaan, dan mentampakkan sikap cukup walaupun sebenarnya berada dalam kekafiran dalam bidang ekonomi.[3] Ib Usman al-Hairi mengatakan, sabar adalah orang yang mampu memasung dirinya atas segala sesuatu yang kurang menyenangkan.[4] Dikalangan para sufi sabar diartikan sabar dalam menjalankan perintah-perintah Allah, dalam menjauhi larangan-Nya dan menerima segala percobaan-percbaan yang ditampakkan-Nya pada diri kita. Sabar menunggu datangnya pertolongan Tuhan. Sabar dalam menjalani cobaan dan tidak menunggu-nunggu datangnya pertolongan.[5]

Sikap sabar sangat dianjurkan dalam ajaran Al-Qur’an. Allah berfirman;

فَصْبِرْ كَمَا صَبَرَ أُوْلُواْ الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ وَلاَ تَسْتَعْجِل لَّهُمْ

Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul dan janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka. (QS. AL-Ahqaf: 35).

وَصْبِرْوَمَا صَبْرُكَ إِلاَّ بِا للَّهِ وَلاَ تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ وَلاَ تَكُ فِي ضَيْقٍ مِّمَّا يَمْكُرُونَ

Bersabarlah dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan. (QS. Al-Nahl:127).

Menurut Ali bin Abi Thalib bahwa Sabar itu adalah bagian dari iman sebagaimana kepala yang kedudukannya lebih tinggi dari jasad.[6] Hal ini menunjukan bahwa sabar sangat memegang peran penting dalam kehidupan manusia. Sikap jiwa yang tabah, tidak mengeluh atau putus asa terhadap cobaan dan ujian beratka yang diberikan Tuhan, dan selalu menjalankan ibadah dengan tekun, dan menjauhi larangan Tuhan dengan kesadaran tinggi.[7]


Macam-macam Sabar

Berdasarkan konteksnya, sabar dapat dibagi menjadi tiga bagian:

  1. Sabar dalam ketaatan (al-shabru ‘ala-Tha’ah. Hal itu dilakukan dengan cara istiqomah (konsisten dan terus menerus) dalam menjalankan ketaatan kepada Allah. Artinya seseorang harus konsisten dalam beribadah baik yang berkaitan dengan ibadah maliyah (ibadah dengan harta, seperti sedekah dan zakat), badaniyyah (ibadah dengan anggota badan, seperti sholat dan jihad di medan perang) maupun ibadah qalbiyyah (dengan hati, seperti sikap ikhlas, qana’ah, syukur, ridla dan lain sebagainya).
  2. Sabar meninggalkan maksiat (al-shabru ‘an al-ma’-shiyyah). Ini dilakukan dengan cara mujahadah (jihad spiritual), bersungguh-sungguh dalam memerangi hawa nafsu dan meluruskan keinginan-keinginan buruk yang dibisikkan oleh setan.
  3. Sabar ketika di timpa musibah (al-shabru ‘ala al-Mushibah). Ini dilakukan ketika kita ditimpa musibah atau kemalangan. Dunia sesungguhnya tempat ujian (dar al-imtihan). Allah akan menguji keimanan seseorang, antara lain, dengan ditimpakannya musibah kepadanya. Ini bukan berarti allah tidak sayang. Melainkan sekedar untuk menguji, sejauh mana kekuatan imannya.[8]

Tingkatan Orang Sabar

Menurut Ibnu ‘Ajibah, orang sabar jika diklasifikasikan berdasarkan tingkatannya dapat dibagi menjadi tiga:

  1. Sabar tingkatan orang awan. Seseorang dalam posisi ini akan selalu tabah atas kesulitan-kesulitan dalam menjalankan ketaatan dan melawan segala bentuk pelanggaran.
  2. Sabar tinggakat orang khusus (khawash). Seseorang yang mesuk dalam tingkatan ini akan bisa menahan hati (tabah) ketika menjalankan riyadlah dan mujahadah (perjuangan spiritual) dengan selalu melakukan muraqabah, sehingga dalam hatinya selalu hadir nama Allah.
  3. Sabar tingkatan khawashul khawas. Seseorang bisa dikatakan masuk dalam maqam ini bila ia bisa menahan ruh dan sirr agar dapat menyaksikan Allah (musyahadah) dengan mata hatinya.[9]

Referensi

[1] Dr.H.Abdul Mustaqim, M.A, Dimensi Akhlak Tasawuf, (Yogyakarta: Kreasi Wancana Yogyakarta, 2007), cet.I, hlm 74-76.
[2] Mahmud Yunus, Kamus Arab, op. Cit., hlm 211.
[3] Al-Qusyairi, Al-Risalah, op. Cit., hlm. 184.
[4] Ibid., hlm. 184.
[5] Harun Nasution, Falsafah, op. Cit., hlm. 68.
[6] Ibid., hlm 183.
[7] Prof.Dr.H.Abuddin Nata, M.A, Akhlak Tasawuf Dan Karakter Mulia, (Jakarta: PT RAJAGRAFINDO PERSADA, 1996), cet.I, hlm 353.
[8] Dr.H.Abdul Mustaqim, M.A, Dimensi Akhlak Tasawuf, (Yogyakarta: Kreasi Wancana Yogyakarta, 2007), cet.I, hlm 77-79.
[9] Ibid., hlm 80.

iklan
Gambar Gravatar
Selamat datang di www.dosenmuslim.com Website ini merupakan referensi terperacaya para mahasiswa, karena wabsite ini di dalamnya memuat penemuan atau penilitian dari para pakar yang sudah dikumpulkan di dalam buku. Salam Muda Berkarya Editor M. Nasikhul Abid, S.Pd.I